CANTIK, berprestasi, dan banyak uang, itulah sosok Dian Sastro. Bintang film Ada Apa dengan Cinta, Daun di Atas Bantal, Ungu Violet , dan Belahan Jiwa itu memang termasuk laris dijadikan komoditas industri entertainment . Beberapa produk bahkan menggunakannya sebagai ikon, mulai dari sabun Lux, roti Breadtalk, hingga kaca mata sunglass Gucci.
Dikemanakankah uang yang didapat dari pekerjaannya sebagai aktris dan bintang iklan? “Sebagian aku depositokan. Sisanya buat bayar cicilan mobil, tagihan kartu kredit, telepon, belanja baju, dan kosmetik,” kata pemilik nama indah Diandra Sastrowardoyo.
Gadis kelahiran 16 Maret 1982 itu mengaku belum berani menginvestasikan uangnya untuk hal-hal yang lain. “Aku belum mengerti kalau yang lain. Jadi aku pilih deposito aja ,” akunya.
Untuk menginvestasikan kekayaannya dengan membeli tanah seperti dilakukan artis-artis lainnya, Dian juga mengaku belum tertarik. “ Ribet bikin sertifikatnya. Paling aku beli apartemen aja, terus aku sewain ,” kata pemilik sebuah unit apartemen di bilangan Jakarta Pusat itu.
Tawaran berbisnis diakuinya sering datang kepadanya. Misalnya saja tawaran dari Omnya yang membuka restoran Foodism di Sudirman Place dan sepupunya yang membangun resort di Pelabuhan Ratu.
“Tapi karena butuh modal yang besar dan aku sendiri belum pernah berbisnis, aku belum tertarik. Tapi kalau gabung untuk jual jasa seperti jadi marketing- nya, aku bersedia,” ujar gadis cantik yang dalam waktu dekat ini akan mendirikan event organizer bersama beberapa temannya. Lagi-lagi, Dian lebih memilih menjadi marketing- nya saja.
Soal akting, sinetron pertamanya, Dunia Tanpa Koma, siap diluncurkan pekan depan. Keputusan Dian untuk tampil di layar gelas sempat membuat fansnya terheran-heran. Maklum, sebelumnya Dian memang terkesan pantang tampil di sinetron. Mungkinkah idealismenya sekarang mulai luntur? “Ah, nggak kok . Itu kan tergantung ceritanya saja. Kebetulan yang ini ceritanya bagus,” kilah pemeran wartawan kriminal dalam sinetron tersebut.
Dalam pergaulan, Dian yang kini menjalin cinta dengan Abi, putra Yapto Soerjosoemarno, mengaku bersyukur selalu berada di lingkungan orang baik-baik. “Alhamdulillah, selama ini aku berada di lingkungan orang yang benar, jadi aku nggak terjerumus ke dalam pergaulan bebas atau narkoba,” aku mahasiswi filsafat Universitas Indonesia ini.
Di tengah kesibukannya berakting dan menjadi model iklan, ia bersyukur kuliahnya bisa jalan terus dan kini mulai memasuki tahap penyusunan skripsi. Tapi, hingga saat ini, dia masih bingung untuk menentukan topik bahasan skripsinya, kajian feminisme atau filsafat seni. “Dua-duanya menarik. Di filsafat seni aku menjalani karena pekerjaanku di bidang seni, sementara kajian feminisme juga menarik karena membahas masalah perempuan. Apalagi, kemarin aku main dalam film pendek Lux yang bertema dari perempuan untuk perempuan,” ujarnya. (e-bursa.com)
Pilihan yg cukup bijaksana, kalau mau invest pd sesuatu sebaiknya cari dulu infonya yg banyak & benar, sekarang ini orang yg ngajak kerjasama banyak yg kagak benarnya…
cuman sekedar nyeletuk nih…
salam,
hanli